Minggu, 13 Juli 2014

Kisah 25 Nabi Dan Mukjizatnya

Kisah 25 Nabi Dan Mukjizatnya - Kisah 25 Nabi serta Mukjizatnya yang diberikan oleh Allah SWT dan perjuangan para Nabi dalam menyebarkan ajaran Islam sebelum kita semua ada di bumi ini sangat pas sekali, 




1. Nabi Adam
Kisah Nabi Adam as : Diyakini sebagai Manusia pertama yang menginjakkan kakinya dibumi, sebagai pasangan Nabi Adam yaitu Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk kiri Nabi Adam.
Mereka diturunkan kebumi oleh Allah SWT karena telah berbuat kesalahan akibat godaan iblis (Syeitan). Nabi Adam dan Hawa dikaruniai 2 pasang putra dan putri yang bernama Qabil dan Iklima, kemudian Habil dan Labuda.
Qabil yang artinya bersifat Kasar, sedangkan Habil yang artinya bersifat Lembut.. Kedua sifat inilah yang akhirnya menjadi Sifat-sifat dasar manusia sampai saat ini.
Baca Selanjutnya : Kisah Nabi Adam as

2. Nabi Ayyub
Kisah Nabi Ayub: Keluarga Nabi Ayub dikenal sangat kaya raya dan sangat Dermawan, namun kesejahteraan ini tidak membuatnya sombong, ini yang mendorong iblis (Syeitan) untuk menggodanya.
Allah SWT pun menentang iblis sekiranya dia dapat meruntuhkan Iman Nabi Ayub.. Ujian itu pun tiba, seluruh harta yang dimiliki Nabi Ayub terbakar, setelah itu Nabi Ayub pun terserang penyakit kulit hingga 80 tahun lamanya. namun dia dan istrinya yang Setia, Rahmah, tetap bertawakkal kepada Allah SWT.
Sampai akhirnya Allah SWT berfirman agar Nabi Ayub menapakkan kedua kakinya di tanah, kemudian dari tanah tersebut keluarlah air yang dapat menyembuhkan penyakit Nabi Ayub yang dideritanya selama 80 tahun.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Ayyub as

3. Nabi Daud
Kisah Nabi Daud: Figur Nabi Daud memuncak disaat dia berhasil membunuh Jalut, Pemimpin kaum pemberontak di Palestina. Nabi Daud kemudian diangkat menjadi Raja dan berlaku sangat adil, Di masanya.. kerajaan tumbuh kuat dan masyarakat menjadi makmur.
Suatu saat Nabi Daud melarang para Nelayan untuk melaut, namun peringatan tersebut dilanggar, sehingga terjadi bencana Gempa yang menewaskan seluruh penduduk.
Baca Selanjutnya Kisah :Nabi Daud as

4. Nabi Dzulkifli
Kisah Nabi Dzulkifli: Sejarah menyebutkan bahwa Nabi Dzulkifli adalah putra Nabi Ayub, dikisahkan pula bahwa dia mewarisi sifat sabar ayahnya yaitu Nabi Ayub.
Suatu saat beliau ditunjuk untuk menjadi Raja setelah dapat memenuhi persyaratan yang diminta, yaitu calon pengganti haruslah seorang yang sanggup berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari, dan bukanlah seorang yang pemarah.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Dzulkifli as
5. Nabi Harun
Kisah Nabi Harun: Nabi Harun disebut sebagai partner setia Nabi Musa, dia adalah sosok yang cakap berdakwah, pandai berdiplomasi, dan penuh perhatian. Nabi Harun selalu mendampingi Nabi Musa dalam berdakwah, hingga suatu saat Nabi Musa memutuskan untuk beruziah dan menitipkan pembinaan umatnya kepada Nabi Harun.
Nabi Harun juga sempat berjuang untuk memberantas penyembahan berhala yang dipimpin oleh Samiri salah seorang tukang sihir kerajaan Fir'aun.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Harun as

6. Nabi Hud
Kisah Nabi Hud: Nabi Hud tergolong dalam kaum ada yang terhormat, kehidupan mereka serba maju dan berkecukupan. Namun sayangnya mereka selalu berfoya-foya dan tenggelam dalam kehidupan Fana.
Nabi Hud mengingatkan kepada mereka untuk bersyukur dan selalu memohon kepada Allah SWT, namun mereka menolak dan akhirnya murka Allah SWT datang dengan menurunkan Azab berupa Badai Gurun selama 7 hari 7 malam, Bagi kaum yang mendengarkan himbauan Nabi Hud selamat dengan berpindah ke Kota Hadramaut.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Huud as
7. Nabi Ibrahim
Kisah Nabi Ibrahim: Nabi Ibrahim dikenal sebagai Bapak para Nabi, dia sangat dihormati oleh pemeluk 3 Agama yaitu:
- Islam
- Kristen
- Yahudi
Nabi Ibrahim-lah yang membangun Ka'bah dikota Mekkah, keyakinannya yang kuat terhadap Islam dimulai dari pencariannya akan Tuhan. Dia sangat tidak tidak menerima orang-orang disekitarnya yang menyembah berhala, sampai akhirnya Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup.. namun Allah SWT menurunkan Mukjizatnya dengan menyelamatkan Nabi Ibrahim dari kobaran api tersebut.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Ibrahim as
8. Nabi Idris
Kisah Nabi Idris: Nabi Idris diyakini sebagai Nabi pertama yang menulis dengan Pena, Masyarakat terdahulu mempercayai pula bahwa dia dibawa ke Surga tanpa mengalami kematian. Peristiwa itu terjadi ketika Nabi Idris berusia 82 tahun.
Baca Selanjutnya  Nabi Idris as
9. Nabi Ilyas
Kisah Nabi Ilyas: Nabi Ilyas tinggal di lembah sungai Yordan yang dimana penduduknya menyembah berhala, Nabi Ilyas menyerukan kepada mereka untuk meninggalkan berhala.
Namun mereka tidak mendengarkannya, bahkan mereka menantang Tuhan yang disembah Nabi Ilyas menurunkan bencana, dan akhirnya kekeringan melanda daerah tersebut.. setelah beberapa tahun kemudian, Nabi Ilyas dapat meyakinkan kaum tersebut untuk menyembah Allah SWT.
Baca Selnjutnya Kisah : Nabi Ilyas as

10. Nabi Ilyasa
Kisah Nabi Ilyasa: Nabi Ilyasa merupakan kerabat dekat dari Nabi Ilyas, setelah Nabi Ilyas meninggal dunia beliau melanjutkan perjuangan Nabi Ilyas untuk menghalau penyembahan berhala yang kembali merebak di lembah sungai Yordan.
Namun kaum tersebut tidak mau mendengarkan, sehingga bencana kekeringan kembali melanda mereka.
Baca Selanjutnya Kisah :Nabi Ilyasa as

11. Nabi ISA
Kisah Nabi ISA: Nabi ISA adalah putra dari Maryam yang dilahirkan tanpa memiliki Suami, hal ini yang menimbulkan kontroversi dan hujatan bertubi-tubi kepada Maryam.
Secara ajaib Nabi ISA yang saat itu masih bayi tiba-tiba berbicara dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.. bahwa penciptaan dirinya diawali dari kedatangan malaikat Jibril kepada Ibunya.
Nabi ISA juga memperlihatkan banyak Mukjizat lainnya ketika dia tumbuh dewasa, diantaranya dengan membentuk seekor burung hidup dari tanah liat, menghidupkan orang mati, menyembuhkan kebutaan, dan mendatangkan makanan yang semula tidak ada.
Penyelamatan Nabi ISA dari penyaliban juga merupakan salah satu bentuk Mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Isa as

12. Nabi Ishaq
Kisah Nabi Ishaq: Nabi Ishaq lebih banyak menemani Bapaknya yaitu Nabi Ibrahim dalam berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Ishaq as
13. Nabi Ismail
Kisah Nabi Ismail: Nabi Ismail dan keluarganya merupakan orang-orang yang terdahulu melaksanakan Ibadah Haji, Suatu saat Nabi Ismail haus dan Ibunya bolak-balik dari Bukit Safa-Marwah untuk mencari air, hingga akhirnya keluarlah sebuah mata air yang saat ini dikenal sebagai "Air Zamzam".
Dalam perjalanan menuju tempat penyembelihan, Nabi Ismail digoda oleh Syeitan agar membatalkan niatnya. namun Nabi Ismail tidak goyah dan melempar Syeitan tersebut dengan Batu, yang saat ini menjadi Ritula Ibadah Haji yaitu Lempar Jumrah.
Seperti yang kita ketahui, saat akan disembelih jasad Nabi Ismail digantikan oleh seekor Kambing, yang akhirnya menjadi cikal bakal Ibadah Idul Adha.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Ismail as
14. Nabi Luth
Kisah Nabi Luth: Perjuangan Nabi Luth adalah menyeru kaum Sodom untuk kembali ke jalan yang benar yaitu meninggalkan Homoseksual, kemudian menyembah Allah SWT.
Pada akhirnya Allah SWT berfirman agar Nabi Luth segera meninggalkan pemukimannya dan kemudian Allah SWT menurunkan Azab yang pedih kepada kaum tersebut.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Luth as

15. Nabi Musa
Kisah Nabi Musa: Kisah pertarungan Nabi Musa melawan Fir'aun merupakan salah satu kisah yang paling tersohor, dikisahkan bahwa Fir'aun merasa terancam dengan keberadaan Nabi Musa yang menyebarkan ajaran Islam untuk mengesahkan Allah SWT.
Mereka bertarung dan akhirnya Nabi Musa memenangkannya dengan bantuan tongkanya, kemudian Nabi Musa dan kaumnya dikejar oleh para pengikut Fir'aun. Namun mereka berhasil lolos dengan bantuan tongkat Nabi Musa yang dapat membelah lautan.
Nabi Musa akhirnya mendapat Mukjizat Kitab Taurat yang dikenal dengan perjanjian lama yang berisi ajaran pokok 10 Perintah Allah SWT.
Baca Selanjutnya Kisah :Nabi Musa as

16. Nabi Nuh
Kisah Nabi Nuh: Nabi Nuh menyebarkan ajaran Islam untuk menyembah Allah SWT, namun masyarakat menolak dan menganggapnya gila. Nabi Nuh kemudian diberikan peringatan oleh Allah SWT bahwa akan ada banjir besar yang akan melanda daerahnya.
Oleh karena itu Nabi Nuh diperintahkan untuk membuat sebuah kapal, Namun masyarakat sekitar tetap tidak mendengarkan peringatan yang disampaikan oleh Nabi Nuh, sehingga mereka semua hanyut dalam banjir tersebut.
Baca Selanjutnya KisahNabi Nuh as

17. Nabi Shalih
Kisah Nabi Shalih: Mukjizat Nabi Shalih yang paling terkenal adalah Unta betina yang keluar dari batu, setelah Nabi Shalih memukulkan Telapak Tangannya.
Nabi Shalih meminta agar penduduk setempat untuk tidak mengganggu Unta tersebut dan susunya boleh diperah untuk memenuhi kebutuhan penduduk miskin, namun kaum yang tidak menyukainya berusaha untuk membunuh Unta tersebut, pada akhirnya mereka dijatuhi Azab Petir dan Gempa.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Shaleh as
18. Nabi Sulaiman
Kisah Nabi Sulaiman: Salah satu keahlian Nabi Sulaiman yang paling menonjol adalah kemampuannya yang dapat berkomunikasi dengan Binatang. Dia juga merupakan Raja yang sangat bijaksana, kekuasaannya bahkan mencakup sampai Bangsa Jin.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Sulaiman as

19. Nabi Syuaib
Kisah Nabi Syuaib: Nabi Syuaib menyebarkan ajaran Islam didaerah Madyan, namun masyarakat Madyan menolak ajaran tersebut hingga akhirnya Allah SWT menurunkan Azab berupa Petir dan Kilat yang menghanguskan mereka.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Syu’aib as
20. Nabi Yahya
Kisah Nabi Yahya: Nabi Yahya mengajarkan bahwa kebenaran harus ditegakkan dengan resiko apapun, pada riwayatnya dicontohkan saat dia bersikeras dan melarang pernikahan antara seorang Paman dengan Keponakannya sendiri.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Yahya as

21. Nabi Ya'kub
Kisah Nabi Ya'kub: Nabi Ya'kub adalah Kakek Moyang para Rasul sebelum masa Nabi Muhammad SAW. Sikap dan cara berpikirnya tentu berpengaruh kepada para Rasul keturunannya serta kaum Yahudi dan kemudian Nasrani penegak panji keesaan Allah SWT sebelum era Nabi Muhammad SAW.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Ya’qub as
22. Nabi Yunus
Kisah Nabi Yunus: Nabi Yunus berusaha menyebarkan ajaran Allah SWT, namun dia tidak mendapat sambutan baik dari masyarakat. Dalam perjalannya menjauhi daerah tersebut karena khawatir akan dibunuh.
Kapal yang dia tumpangi diguncang Topan dan diputuskan bahwa Nabi Yunus akan dikorbankan untuk ditenggelamkan ke laut demi keselamatan penumpang lainnya.. namun Mukjizat Allah SWT datang, Nabi Yunus dimakan oleh seekor Ikan Paus dan ditemukan masih hidup di perut Ikan Paus tersebut, Nabi Yunus pun melanjutkan perjalanannya dalam menyebarkan ajaran Islam.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Yunus as

23. Nabi Yusuf
Kisah Nabi Yusuf: Nabi Yusuf dikisahkan dalam riwayatnya sebagai seorang pria yang sangat tampan dan sangat piawai dalam memimpin negaranya, sejak kecil dia mendapat mimpi yang tidak biasa.. dan ketika besar Nabi Yusuf dapat mentakwilkan mimpinya tersebut sehingga dia sangat dihormati oleh masyarakat sekitarnya.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Yusuf as
24. Nabi Zakaria
Kisah Nabi Zakaria: Nabi Zakaria dan istrinya yaitu Isya membaktikan dirinya untuk menjaga Baitul Maqdis - rumah Ibadah peninggalan Nabi Sulaiman di Yerusalem.
Nabi Zakaria dikaruniai keturunan oleh Allah SWT disaat beliau berusia sudah cukup uzur yaitu 100 tahun, dan Anak tersebut adalah Nabi Yahya.
Baca Selanjutnya Kisah :Nabi Zakaria as

25. Nabi Muhammad SAW
Kisah Nabi Muhammad SAW: Nabi Muhammad SAW adalah Rasul terakhir dan sekaligus sebagai penutup Rasul-Rasul sebelumnya, Beliaulah yang menyempurnakan ajaran-ajaran Islam.
Mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya sangatlah banyak, salah satunya yang paling besar adalah Al-Qur'an, yang menjadi pedoman utama kehidupan manusia. Selain itu ada pula peristiwa Isra Mi'raj yang membawanya bertemu dengan Allah SWT.
Baca Selanjutnya Kisah : Nabi Muhammad saw

Rabu, 13 November 2013

Tiga Doa Yang Terkabul


Suatu hari Saham bin Munjab merasa beruntung karena berada satu pasukan dengan Alla'bin Hadhrami. Saham sangat penasaran dengan Alla', karena banyak orang yang mengatakan bahwa Alla' adalah pembawa keberuntungan. Setiap peperangan yang di ikuti oleh Alla' bin Hadhrami pasti mendapatkan kemenangan. Selain itu, Alla' juga sangat dikenal sebagai orang yang doanya selalu terkabul.

Dalam perjalanan misi militer tersebut, tanpa sengaja Saham bin Munjab mendengar doa yang dipanjatkan oleh Alla' bin Hadhrami setelah shalat berjamaah. Adapun doa yang dibaca oleh Alla' bin Hadhrami adalah,

"Ya Allah, Tuhanku Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu dan di jalan-Mu untuk memerangi musuh-musuh-Mu. Maka, limpahkanlah kepada kami air untuk diminum, untuk berwudhu, dan bersuci dari kotoran atau hadats. Bilamana kami meninggalkan tempat ini, maka janganlah Engkau jadikan nasib seperti ini kepada siapapun, selain kami."

Setelah beberapa waktu, rombongan pasukan muslimin menemukan air sungai yang mengalir deras. Kemudian pasukan muslimin mengambil air untuk keperluan pribadi dan bekal dalam perjalanan.

Saham bin Munjab sengaja meninggalkan tempat minumnya dengan tujuan menguji doa Alla' bin Hadhrami. Apakah dikabulkan Allah atau tidak.

Setelah melakukan perjalanan yang jauh itu, kira-kira satu mil perjalanan dari sungai tersebut, Saham meminta izin kepada komandan pasukan muslimin untuk mengambil tempat air minumnya yang ketinggalan di sungai tadi. Setelah diperbolehkan ia kembali ketempat tersebut.

Di tem[at itu Saham bin MUnjab dapat menemukan tempat air minumnya, tapi sungainya telah berubah, yang tadinya air sungai itu berlimpah kini sudah kering dan tidak ada air sama sekali. Bahkan sedikitpun tidak meninggaklkan sisa.

Setelah melakukan perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan itu, pasukan muslimin sampai ke medan perang. namun ada yang menahan, yaitu terhalang oleh sebuah lautan yang memisahkan antara mereka dan musuh.

Dalam keadaan seperti itu, Saham mendengar Alla' bin Hadhrami berdoa,

"Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Agung, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, dan dijalan-Mu kami memerangi musuh-Mu. Maka, berilah kami jalan untuk menuju musuh-Mu."

Setelah berdoa Alla' mengajak pasukan muslimin menyeberangi lautan. Yang sungguh menakjubkan adalah pelana kuda yang dikendarai oleh pasukan muslimin tidak basah sama sekali hingga keluar dari air laut dan ke garis musuh.

Setelah peperangan berakhir dan dimenangkan oleh pasukan muslimin, kemudian mereka kembali pulang. dalam perjalanan pulang tersebut Alla' bin Hadhrami jatuh sakit dan meninggal dunia. Karena tidak ada air, Alla' dikuburkan dengan pakaian yang dikenakan tanpa dimandikan.

Pasukan muslimin kemudian melanjutkan perjalanan pulang setelah memakamkan jenazah alla' bin Hadhrami. Tak lama kemudian ditengah perjalanan mereka menemukan sumber mata air, di antara mereka ada yang berinisiatif kembali ke pemekaman Alla' bin hadhrami dengan tujuan mengambil jenazahnya untuk dimandikan dan dikubur kembali.

Namun, ketika mereka menggali kuburan Alla' jenazahnya sudah tidak ada lagi, tetapi tidak ada tanda-tanda ada yang menggalinya atau dimakan hewan buas. Kemudian salah satu diantara mereka ada yang angkat cerita, bahwa ia pernah mendengar Alla' bin hadhrami berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang berbunyi:

"Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Agung, sembunyikanlah jenazahku./ Jangan Engkau biarkan seorang pun melihat auratku."

Setelah mendengar cerita tersebut, pasukan muslimin sepakat untuk melanjutkan perjalanan pulang. Saham bin Munjab pun yakin, bahwa Alla' bin Hadhrami adalah adalah orang yang bertakwa, sehingga doanya selalu terkabul. Karena hal itu terbukti dengan Ketiga doanya tersebut telah dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala Robbul 'Alamin.

Demikianlah kisah ini diceritakan kembali dengan tujuan agar kita semua dapat meyakini tentang kekuatan sebuah doa dalam kisah yang telah diceritakan kembali oleh Ustadz Lutfil Kirom az- Zumaro dalam bukunya yang berjudul : Kisah Paling Menggugah 1001 keajaiban Ketakwaan. Penebit : Najah.

Kisah Ali Bin Abi Thalib R.A

Ali bin Abi Thalib sudah kita ketahui bahwa beliau adalah anak dari pamannya Nabi Muhammad Saw, yaitu  Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasulullah, Ali bin Abi Thalib merupakan orang yang pertama kali masuk Islam sejak kecil, kira-kira umur beliau terpaut 12 tahun lebih muda dari Rasulullah Saw. dan beliau juga merupakan sepupu dan sahabat serta sekaligus menantu Rasulullah Saw dengan menikahi anaknya yaitu Fatimah Az-Zahra.
Tidak heran jika beliau memiliki kepribadian dan berakhlak yang mulia, karena sejak kecil Ali bin Abi Thalib sangat dekat dengan Rasulullah Saw. Bukan itu saja beliau juga adalah seorang sahabat yang telah dijamin oleh Allah Swt. masuk surga.
Ali adalah orang shaleh, adil dalam segala hal, tegas dalam segala urusan, ahli dalam bidang kemiliteran dan mampu menggunakan alat-alat perang terutama dakam meenggunakan pedang. Karena kepandaiannya itu banyak orang-orang kafir Quraisy yang mati di ujung pedangnya dalam peperangan.
Ketika Usman bin Affan menjadi Khalifah menggantikan Khalifah Umar bin Khattab ra. Ali bin Abi Thalib menyetujuinya, tetapi tidak suka dengan kebijaksanaan dalam jabatan-jabatan yang selalu mementingkan atau mengutamakan keluarga Usman dan bukan diberikan kepada orang-orang yang mampu menduduki atau orang yang memiliki kemampuan dalam hal menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan.
Kematian Khalifah Usman bin Affan ditangan pemberontak membuat pusat pemerintahan Islam di Madinah tidak menentu dan disamping itu para pemberontak masih berkeliaran baik dari Mesir, Kuffah, dan Basrah. Dalam keadaan seperti ini penduduk Madinah terbagi menjadi tiga golongan.

- Golongan yang pertama. Golongan pemberontak yang membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah menggantikan Usman bin Affan dan beberapa sahabat yang ikut membaiat karena takut kepada pemberontak, yaitu Talhah dan Zubeir.

- Golongan kedua. Golongan yang menuntut kematian Usman bin Affan yaitu dari keluarga Umayyah yang dipimpin oleh Gubernur Syam (Irak).
- Golongan ketiga. Golongan yang menentang pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, karena tidak disetujui oleh umat Islam secara utuh. Golongan ketiga ini dipimpin oleh Aisyah dan dibantu olen Talhah serta Zubeir.

Ketika Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah yang ke empat yang sebelumnya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, dan Usman bin Affan ra. Dalam kepemimpinannya banyak hal-hal yang beliau perbuat, seperti:

1. Mengganti seluruh pejabat dan gubernur yang diangkat oleh Khalifah Usman bin Affan. Para sahabat ada yang telah memberikan nasehat agar tindakan itu jangan dilakukan, karena menurut mereka pemerintahn Ali belum kuat. Akan tetapi nasehat itu tidak didengar, malah beliau tetap ingin mengganti para pejabat dan gubernur yang sudah ada.

2. Mengambil kembali tanah-tanah yang dulu pernah dibagi-bagikan pada masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan.

3. Memerangi para pemberontak
.
Ali bin Abi Thalib telah memecat para gubernur yang telah diangkat oleh Umar dan salah satunya adalah Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Irak, tetapi Muawiyah tidak mau mempersiapkan tentaranya untuk menghadapi khalifah Ali. sedangkan Ali bin abi Thalib sudah mempersiapkan pasukannya untuk memerangi Muawiyah.

Ketika akan berangkat ke Irak terdengar bahwa di Mekkah telah terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Aisyah, Talhah dan Zubeir. Maka tentaranya terlebih dahulu diarahkan ke Mekkah untuk memadamkan pemberontakan disana yang terjadi pada tahun 36 H/657 M. yang telah menguasai Basrah. Peperangan antara Ali dan Aisyah dikenal dengan nama "Perang Berunta" tentara-tentara pemberontak dipimpin oleh Aisyah (istri Nabi Saw). Sedangkan tentara Ali dipimpin oleh beliau sendiri.

Perang berunta itu dimenangkan oleh Ali. pada peperangan tersebut Zubeir dan Talhah sebagai pendukung Aisyah tewas, sedangkan Aisyah dibiarkan tetap hidup dan dikembalikan ke Mekkah dengan segala kehormatan sebagaimana layaknya menghormati istri Nabi Saw. dan sekaligus sebagai mertuanya.
Setelah pemberontakan di Mekkah dapat di atasi kemudian pasukan yang dipimpin Khalifah Ali bin Abi Thalib segera berangkat ke Irak untuk memerangi Muawiyah. Peperangan ini dikenal dengan perang Siffin. Peperangan yang melibatkan antara Ali dan Muawiyah. Perang antara dua keturunan antara Bani Hasyim dan Bani Umayah. Perang besar yang sama-sama bertujuan untuk keluhuran agama Islam, perang yang sebelumnya telah diramalkan oleh Rasulullah Saw dahulu dan perang ini juga sebagai pertanda akan terjadi perpecahan umat Islam dalam beberapa golongan atau aliran, serta perang besar ini juga sebagai tanda-tanda kiamat kecil. Peperangan ini terjadi setelah perang Jamal. Peperangan ini disebutg perang Siffin, karena pertempurannya terjadi di Siffin, sebelah barat sungai Effrat. Dalam peperangan ini Muawiyah kalah dan hendak melarikan diri. tetapi Amr bin Ash yang ada dipihak Muawiyah mengangkat Al-Quran setinggi-tingginya untuk damai dan ia mengatakan bahwa umat Islam tidak pantas berperang melawan sesama saudaranya (umat Islam) sendiri.

Ali bin Abi Thalib mendengar hal itu kemudian menghentikan peperangan dan sebagian lagi tidak setuju, karena kemenangan sudah hampir diperoleh. Kedua belah pihak setuju untuk mengadakan perdamaian. Masing-masing mengutus dari pihak Ali diutus Musa Al Asy'ari sahabat Nabi yang warok dan shaleh. Sedangkan dipihak Muawiyah mengutus Amir bin Ash.

Dalam musyawarah itu pihak Ali kalah atas kelicikan Amr bin Ash. Amr berjanji akan sama-sama menurunkan diri dari jabatan kekhalifaan dan Muawiyah menurunkan diri dari jabatan sebagai gubernur, lalu umatlah yang selanjutnya akan memilih siapa yang skan menduduki jabatan tersebut. Pada kesempatan itu Abu Muasa berpidato terlebih dahulu untuk menurunkan Khalifah Ali. Kemudian Amr bin Ash berkata, bahwa ia setuju Ali diturunkan dari kekhalifaan dan hal ini diumumkan kepada orang banyak. Kemudian Amr bin Ash berkat, bahwa ia juga telah menurunkan Muawiyah dari gubernur dan langsung mengangkatnya sebagai khalifah. Selanjutnya mereka tidak mau melanjutkan perang. Muawiyah kemudian mengirim Amr bin Ash untuk memerangi para gubernur yang diangkat olen Ali. Amr bin Ash berhasil membunuh gubernur Mesir, yaitu Muhammad bin Abi Bakar. Kemudian Amr bin Ash diangkat oleh Muawiyah sebagai gubernur Mesir dan kemudian memberontak kepada Ali.

Tentara khalifah Ali bin Abi Thalib yang tidak setuju peperangan dihentikan, lalu berbalik kebelakang untuk memberontak. Golongan yang tidak setuju ini adalah awal dari nama Khawrij yang di dalam Al-Quran dijuluki Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai "Anjing-Anjing Neraka. Orang-orang Khawarij kemudian berniat akan membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, dan Amr bin Ash. Karena mereka menganggap ketiga orang ini adalah sumber dari tidak tenteramnya umat Islam.

Orang-orang Khawarij, seperti Ibnu Muljam berhasil membunuh Ali di Kuffah pada 17 Ramadhan tahun 40 H. Sedangkan Al Barah gagal membunuh Muawiyah dan Umar bin Bakir juga gagal membunuh Amr bin Ash. Setelah Khalifah Ali bin Abi Thalib wafat, kekhalifaan diduduki oleh anaknya, yaitu Hasan pada tahun 40 H. Karena tidak setuju, kemudian Muawiyah menyiapkan pasukannya untuk memerangi Hasan. Hasan mendengar hal itu. ia berusaha mengumpulkan pasukan, tetapi tidak berhasil. Dan akhirnya Hasan dan pengikutnya mundur ke Madain. Di Madain antara Muawiyah dan Hasan mengadakan perjanjian yang isinya antara lain.

1. Hasan rela tidak menjadi khalifah karena memelihara darah umat Islam.
2. Muawiyah jangan lagi mencaci maki ayahnya diatas mimbar.
3. Setelah Muawiyah nanti kursi kekhalifaan diserahkan pengangkatannya kepada umat Islam.

Demikianlah sejarah ringkas tentang khalifah Ali bin Abi Thalib yang saya ketahui. Jika ada kesalahan pada nama atau peristiwa yang terjadi pada kekhalifaan Ali bin Abi Thalib, mohon diberi tambahan. Wallahu a'lam bish shawab.

Kisah Umar Bin Khattab


Biografi Umar bin Khattab

“Ya Allah, jadikanlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini. Amr bin Hisham atau Umar bin Khattab.” Salah satu dari doa Rasulullah pada saat Islam masih dalam tahap awal penyebaran dan masih lemah. Doa itu segera dikabulkan oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan islam, sedangkan Amr bin Hisham meninggal sebagai Abu Jahal.

Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan.

Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Beliau merupakan khalifah kedua di dalam Islam setelah Abu Bakar. Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin ‘Adiy bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Rasulullah selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Khatamah binti Hasyim bin al Mughirah al Makhzumiyah. Rasulullah memberi beliau kunyah Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua dan memberi laqab (julukan) al Faruq.

Umar bin Khattab Masuk Islam

Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum Jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.

Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Rasulullah. Waktu itu Rasulullah membaca surat al Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri- “Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.” Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al Qur’an bukan syair), lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau mendengar bacaan Rasulullah ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan perkataan dukun.) akhirnya beliau berkata, “Telah terbetik lslam di dalam hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.

Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Rasulullah. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau kemana wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lelaki tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesugguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.”

Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur’an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.” Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.” Iparnya menjawab, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?” Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.

Umar bin Khattab berkata, “Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.” Maka adik perempuannya berkata, “Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” Lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.

Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, ‘Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.’ Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, “Ada apa kalian?” Mereka menjawab, “Umar datang!” Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Rasulullah menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya, “Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”

Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam.”

Kepemimpinan Umar bin Khattab

Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al Qur’an dan as Sunnah setelah Abu Bakar.

Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh besar setelah Rasulullah dan Abu Bakar. Pada masa kepemimpinannya kekuasaan Islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.

Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah, penaklukan-penaklukan penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636 M), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641 M, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639 M, pasukan Islam menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637 M, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Menjelang tahun 641 M, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642 M), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644 M, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, “Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabat pun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun Hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan shalat sunah Tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum khamr (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.

Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang pemimpin yang zuhud dan wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Dalam satu riwayat Qatadah berkata, “Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya berkata, “Umar bin Khattab berkata, ‘Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah’.”

Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang. Beliau berjanji tidak akan makan minyak Samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya.

Tidak diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum’at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.

Kebijaksanaan dan keadilan Umar bin Khattab ini dilandasi oleh kekuatirannya terhadap rasa tanggung jawabnya kepada Allah. Sehingga jauh-jauh hari Umar bin Khattab sudah mempersiapkan penggantinya jika kelak dia wafat. Sebelum wafat, Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat ridha Allah dan Rasulullah. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair binl Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka dengan berkata, “Aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati. Kalau Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.”

Wafatnya Umar bin Khattab

Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H Umar Bin Kattab wafat. Beliau ditikam ketika sedang melakukan shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah (al Fairus dari Persia), budak milik al Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar bin Khattab dimakamkan di samping Rasulullah dan Abu Bakar, beliau wafat dalam usia 63 tahun.

Diambil dari berbagai sumber.

Detik-Detik Wafatnya Nabi Muhammad SAW

Assalamu'alaikum wr wb.

Kisah yang sangat mengharukan, dijamin akan meneteslah semua air mata bagi siapa saja yang membacanya.
Bukan saja manusia yang menangis, tapi seluruh penghuni langit dan bumi.



Kisahnya

Dengan suara terbata-bata, pagi itu Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam berkhutbah, "Wahai umatku, kita semua dalam kekuasaan Allah dan dalam cinta kasih-Nya. Maka taat dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal kepada kalian, yaiut Al-Qur'an dan Sunnahku. Barangsiapa yang mencintai Sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk Surga bersama-sama denganku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang menatap satu persatu para sahabatnya. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar Bin Khathab menahan nafas dalam tangisnya. Utsman Bin 'Affan menghela nafas panjang. Ali Bin Abi Thalib hanya bisa menundukkan kepala.

"Isyarat telah datang dan saatnya telah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua." Keluh dalam hati para Sahabat Rasul. Manusia paling Mulia sejagat itu telah hampir selesai menunaikan tugasnya. Dan tanda-tanda itu tampak semakin kuat. Sayyidina Ali dengan cekatan memeluk Rasulullah yang begitu lemah dan begitu goyah ketika turun dari mimbar.

Matahari kian tinggi. Tapi pintu rumah Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam masih tertutup. Didalam rumahnya, Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam tengah terbaring lemah dengan kening berkeringat membasahi pelepah kurma sebagai alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar salam.

"Assalamu'alaikum. Bolehkah saya masuk?" tanyanya.

Siti Fatimah tidak serta merta mengijinkan ia masuk.

"Wa'alaikumsalam. Maaf Ayahandaku lagi demam."

Ia kembali menemani Ayahandanya yang ternyata sudah membuka mata sembari bertanya :

"Siapakah dia wahai anakku?"
"Tak tahulah Ayahandaku. Sepertinya baru kali ini aku melihatnya." tutur Fatimah dengan lembutnya.

Lalu Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah puterinya ingin dikenangnya.

"Ketahuilah Fatimah. Dialah yang akan menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang akan memisahkan pertemuan di dunia. Dialah Malaikatul Maut." kata Rasulullah.

Seketika Fatimah berusaha menahan ledakan tangisnya.

Malaikat Turun ke Bumi

Ketika Malaikat maut datang mendekat, Rasulullah menanyakan kenapa Malaikat Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggillah Malaikat Jibril yang sudah bersiap di atas langit dunia untuk menyambut kedatangan Ruh kekasih Allah yang begitu Mulia ini.

"Jibril, katakan apa hakku nanti di hadapan Allah." tanya Rasulullah dengan suara yang teramat lemah dan lirih.

"Pintu-pintu langit telah terbuka. Para Malaikat telah menanti Ruhmu. Semua Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu." jawab Malaikat Jibril.

Dan ternyata itu tidak membuat hati Rasulullah lega. Matanya masih begitu tampak penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar kabar ini ya Rasul?" tanya Malaikat Jibril.
"Katakan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" lanjut Rasulullah.
"Jangan khawatir ya Rasulullah. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku, "Kuharamkan Surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya." jawab Malaikat Jibril.

Detik demi detik semakin berlalu. Saatnya Malaikat Izrail (Maut) melaksanakan tugasnya. Perlahan Ruh Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam ditariknya. Tampak sekujur tubuh Rasulullah bersimbah keringat. Urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakitnya Sakratul Maut ini." Rasulullah mengaduh lirih.

Fatimah tak kuasa menatap Ayahandanya. Dibiarkan matanya terpejam. Sayyidina Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam. Malaikat Jibrilpun memalingkan muka.

"Jijikkah engkau melihatku hingga engkau palingkan wajahmu Ya Jibril?" tanya Rasulullah pada Malaikat Jibril sang Penyampai Wahyu itu.

"Siapa yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal ya Rasul?" kata Malaikat Jibril.

Kasih Sayang Kepada Umat Tiada Duany

Kemudian terdengar Rasulullah memekik karena merasakan sakit yang tak tertahankan. "Ya Allah, dahsyat sekali sakitnya maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku. Jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin. Kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya mulai bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam.

"Uushikum bishshalaati wamaa malakat aymanukum."
Aku berpesan kepada kalian jagalah sholat dan peliharalah orang-orang lemah diantara kamu."

Di luar pintu, tangispun mulai terdengar bersahutan. Sahabat Rasulullah saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Dan Sayyidina Ali kembali mendekatkan telinga di bibir Rasulullah yang mulai tampak kebiru-biruan.

"Ummatii...Ummatii....Ummatii."
Bagaimana nasib umatku.. umatku.. umatku.

Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raji'un.

Berakhirlah sudah riwayat hidup seorang manusia yang kemuliaannya tak ada yang menandingi. Seorang manusia pilihan yang telah memberi sinar cahaya terang dan membawa kita terbebas dari kegelapan. Sosok yang begitu cinta kepada umatnya. Di saat ajalpun Rasulullah tidak memikirkan anaknya, isterinya atau yang lainnya. Dalam hatinya Rasulullah begitu gelisah memikirkan nasib umatnya.
wassalamu'alaikum..

7 Godaan Iblis Saat Sedang Sekarat

Assalamu'alaikum wr wb.

Iblis laknatullah memang tidak akan pernah menyerah untuk menyesatkan manusia. Bahkan pada saat detik-detik terakhir hidupnya manusia, iblis datang dengan membawa 7 golongan dengan tujuan mengajak manusia untuk masuk ke dalam neraka.

Kisahnya

Tak ada yang bisa selamat dari godaan iblis ini, KECUALI atas izin Allah SWT.
Oleh karena itulah kita senantiasa harus ingat akan ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW untuk memohon perlindungan Allah SWT dari godaan iblis yang terkutuk.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengajarkan doa sebagai berikut,
"Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari tipuan setan di waktu sakaratul maut."

7 Golongan Penggoda Manusia Saat Sekarat

Ketika manusia sedang dalam keadaan sakaratul maut, ia akan menemui7 golongan iblis yang akan mengajak kesesatan.
Siapa saja mereka.

Golongan pertama adalah iblis yang datang dengan berbagai rupa aneh seperti emas, perak dan lain sebagainya.
Golongan kedua adalah iblis yang datang dengan menyerupai binatang buas seperti harimau, srigala, dan ular yang berbisa.
Golongan ketiga adalah iblis yang menyerupai binatang kesayangannya.

Sedangkan golongan yang ke empat aadalah iblis yang menyerupai orang yang paling dibenci oleh orang yang akan mati itu.
Pada saat iblis datang, bisa dipastikan orang yang akan mati itu akan bereaksi dan mati tanpa mengingat Allah SWT.

Kelompok ke lima adalah iblis datang dengan menyerupai sanak saudarany seperti ayah dan ibunya sambil membawakan makanan dan minuman. Perlu diketahui bahwa orang yang dalam keadaan sakaratul maut itu sangat dan sangat mengharapkan makanan dan minuman karena saking dahaganya keadaan itu.
Dengan begitu oang itu akan mengambil makanan dan minuman dari iblis yang menyerupai ayah dan ibunya.

Rombongan ke enam adalah iblis yang menampakkan diri sebagai ulama-ulama yang membawa banyak kitab sambil berkata,
"Wahai muridku, ternyata kamu sedang sakit di sini, karena itu aku bawakan kamu dokter dan obat-obatan."

Tanpa pikir panjang, orang itu langsung meminum obat itu. Seketika sakitnya hilang, namun kemudian kambuh lagi.
Setelah itu, iblis berkata,
"Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasehat agar kamu mati dalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah SWT?"
"Aku tidak tahu,"jawab orang yang sekarat itu.

Ternyata Hanya Tipuan Iblis

"Ketahuilah,aku ini adalah seorang ulama yang sangat hebat. Kami baru saja kembali dari alam gaib dan telah mendapatkan surga tertinggi. Cobalah kamu lihat surga yang akan disediakan untukmu. Kalau kamu ingin mengetahui zat Allah SWT, maka patuhilah kami, "ucap iblis.

"Bagaimana Zat Allah itu? "tanya orang yang sekarat itu.
"Tunggulah sebentar lagi, dinding dan tirai akan dibukakan kepadamu, "jawab iblis.

Ketika tirai yang berwarna warna itu dibuka selapis demi lapis, maka orang yang dalam keadaan sekarat itu pun dapat melihat sebuah benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.
"Itulah dia Zat Allah SWT yang patut kita sembah, "jawab iblis.

"Wahau guruku, bukankah ini adalah hanya benda yang benar-benar sangat besar saja dan memiliki enam sisi seperti benda lain, atas bawah, kanan kiri dan depan belakang. Padalah Zat Allah SWT tidak menyerupai makhluk, Dia Maha Sempurna, Maha Suci dari sifat kekurangan. Tapi sekarang ini pula keadaannya, lain dari dari yang aku ketahui dulu. Tapi sekarang yang patut aku sembah ialah benda yang besar ini, "ujar orang yang sedang sekarat itu.

Dalam posisi penuh keraguan seperti itu, tiba-tiba Malaikat Maut datang dan terus mencabut nyawanya.
Maka matilah orang itu dalam keadaan kafir dan kekal di dalam neraka.

Rombongan yang ke tujuh atau yang terakhit adalah rombongan iblis yang datang dengan 72 barisan yang mengajak manusia tersesat di akhir hayatnya.

Astaghfirullah...

Semoga kita semua dimatikan dalam keadaan Khusnul Khatimah.
Amiiin...

Wa'alaikum salam wr wb.

Senin, 29 November 2010

Mualaf-Mualaf Yang Memiliki Pengaruh Besar Dalam Sejarah Islam

mualaf islam
Keluarga Barmakid adalah sebuah keluarga Budha yang berpengaruh dari daerah Balkh, sekarang berada di teritorial Afghanistan. Pada saat Dinasti Umayyah menaklukkan daerah tersebut, pada pertengahan tahun 600-an M, keluarga ini pun memeluk Islam. Setelah revolusi Abbasiyah tahun 750 M, keluarga Barmakid mulai menunjukkan bakat mereka sebagai administrator yang handal. Mereka mewarisi pengalaman nenek moyang mereka yang pernah mengurusi birokrasi kerajaan Persia selama berabad-abad. Pengalaman mengurusi birokrasi yang besar inilah yang tidak dimiliki oleh keluarga Abbasiyah.
Sebagai menteri atau pelaksana pemerintahan, keluarga Barmakid memiliki pengaruh yang signifikan dalam stabilitas kerajaan di akhir abad ke-8, Yahya bin Khalid al-Barmaki adalah adalah salah satu contohnya. Yahya ditunjuk sebagai mentor Harun al-Rasyid yang masih belia kala itu. Hasilnya sudah kita ketahui, Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah terbaik di zaman Abbasiyah dan berhasil membawa kerajaan tersebut mencapai masa keemasan. Di bawah arahan dan bimbingannya, Harun al-Rasyid membangun hubungan yang baik dengan negara-negara tetangga, menumbuhkan ekonomi progresif, jaminan terhadap para ulama, dan sistem infrastruktur yang menyaingi kemegahan Romawi kuno di zamannya. Keluarga Barmakid lah yang sangat mempengaruhi menajemen perpolitikan dunia Islam yang berlangsung hingga beberapa abad.
(wafat tahun 1266 M)
Ia adalah cucu dari Jenghis Khan sang penakluk dari Mongol. Berke Khan merupakan tokoh penting dalam sejarah Mongol pada pertengahan tahun 1200-an M. Ia adalah raja Dinasti Golden Horde, salah satu generasi yang membawa bangsa Mongol mengecap masa keemasan mereka. Sebagaimana nenek moyangnya, Berke juga menganut paham Shamanisme sebelum ia memeluk Islam. Berke adalah seorang pemimpin yang kuat, ia pernah mengirim pasukan ke Utara pegunungan Kaukasus dan Tenggara Eropa untuk menaklukkan orang-orang Kipchak Turki. Ia juga memobilisasi pasukannya untuk menaklukkan seluruh wilayah Hungaria.
Setelah misi militernya selesai di wilayah-wilayah tersebut, dalam perjalanan pulang menuju Mongol, ia singgah di wilayah Bukhara, tempat dimana rasa keingintahuannya tentang Islam muncul. Lalu ia bertanya tentang Islam kepada penduduk setempat. Mendengar penjelasan-penjelasan tentang Islam, Berke meyakini pesan-pesan yang dibawa oleh agama Islam benar-benar sejalan dengan tujuan penciptaan manusia dan mendamaikan jiwanya yang tidak tenang dalam keyakinan animisme dan dinamisme yang dibawa oleh ajaran Shamaniah. Ia pun memutuskan untuk memeluk agama Islam sekaligus menjadi pemimpin Mongol pertama yang menerima Islam. Keislamannya juga diikuti oleh banyak prajuritnya.
Keislaman Berke dan pasukannya secara otomatis menanamkan jiwa persaudaraan mereka sesama umat Islam. Saat itulah mulai muncul ketegangan ditubuh pasukan Mongol, terutama dengan kubu sepupunya Hulagu Khan dari Dinasti Chagtai. Hulagu Khan adalah penguasa Mongol untuk wilayah bekas-bekas kerajaan Persia, ia dikenal kejam dan sangat mirip dengan kakek mereka Jenghis Khan. Hulagu telah membantai jutaan umat Islam dalam ekspansi-ekspansinya di wilayah-wilayah Islam.
Setelah mendengar jatuhnya Baghdad oleh sepupunya, Hulaghu Khan, pada tahun 1258, dengan penuh keyakinan dan semangat persaudaraan sesama muslim, ia kesampingkan pertalian darah atau nasabnya dengan Hulagu. Ia mengatakan “Hulagu telah memporak-porandakan semua kota-kota Islam dan membunuh khalifah, dengan pertolongan Allah aku akan membalas dan membuat perhitungan dengannya atas banyak darah umat Islam yang ia tumpahkan.” Dengan dukungan pasukan kerajaan Mamluk di Mesir, Berke memobilisasi pasukannya untuk memukul mundur pasukan Hulagu.
Zaganos Pasha (1446–1466 M)
Zagaros Pasha adalah seseorang yang berasal dari Yunani ada juga yang mengatakan seorang Albania. ia direkrut menjadi Yenicheri, korps elit kekaisaran Utsmani. Seperti Yenicheri lainnya, ia dibekali ilmu agama Islam, administrasi pemerintahan, dan pelatihan militer. Ia ditunjuk menjadi mentor dan penasihat calon raja ketujuh Dinasti Utsmani Sultan Mehmed II atau yang lebih dikenal dengan Sultan Muhammad al-Fatih yang masih sangat belia.
Saat Mehmed menjabat sebagai raja Utsmani, Zaragos pun diangkat menjadi seorang menteri. Zaragos selalu dilibatkan dalam semua urusan negara, terutama rencana penaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Saat penyerangan Konstantinopel, Zaragos ditugaskan mengepung benteng Konstantinopel dari bagian Utara, dan pasukannya merupakan rombongan pertama yang berhasil menyentuh dinding Konstantinopel yang dikenal begitu kokoh. Peninggalan-peninggalan Zaragos masih tersisa di wilayah Edrine berupa masjid, dapur umum, dan pemandian umum.
Ibrahim Muteferrika (1674 – 1745 M)
Isu yang sering diarahkan kepada kerajaan Utsmani adalah ilmu pengetahuan pada masa kerajaan ini tidak berkembang, stagnan, dan sangat minim dengan inovasi, tidak berbanding dengan luasnya wilayah kerajaan dan lamanya masa kekuasaan mereka. Seorang yang berasal dari Hungaria, Ibrahim Muteferrika, mendengar dan mengamati isu yang beredar ini. Sebagai seorang diplomat yang ditugaskan menjembatani hubungan Utsmani dan Eropa, khususnya Prancis dan Swedia, Ibrahim Muteferrika menangkap peluang dari kebangkitan Eropa (Renaissance) dimana penggunaan mesin cetak menjadi budaya baru dan menurut Ibrahim orang-orang Eropa belum optimal menggunakan alat tersebut. Ia pulang ke Istanbul dengan misi mengembangkan inovasi percetakan dengan alat tersebut.
Ibrahim mulai mencetak dan menerbitkan atlas dunia yang berisikan peta-peta berbagai negara, kamus-kamus, dan buku-buku agama. Di antara hasil percetakannya yang paling terkenal adalah sebuah atlas yang dibuat oleh seorang ahli geograpi yang terkenal, Katip Celebi, yang menggambarkan peta dunia di zaman tersebut dengan tingkat detail dan presisi yang luar biasa. Selain mengembangkan percetakan buku-buku, Ibrahim Muteferrika juga menulis beberapa buku tentang sejarah, teologi, sosiologi, dan astronomi.
Alexander Russel Webb (1846 – 1965 M)
Di akhir abad 19, dunia jurnalistik Amerika mulai memasuki era baru. Pengaruh dunia tulis-menulis sangat besar dan efektif dalam membentuk opini di masyarakat. Salah seorang yang berperan dalam perkembangan tersebut adalah Alexander Russel Webb. Awalnya, Webb adalah seseorang yang beragama Kristen, namun semakin hari agama tersebut malah menimbulkan keraguan baginya, hingga hilanglah kepercayaannya dengan agama Kristen.
Setelah kepercayaan terhadap agama Kristen hilang, ia mulai membuka diri dan mempelajari agama-agama selain Kristen. Dan tiba-tiba ia merasakan ketertarikan terhadap Islam. Ketika ditunjuk pemerintah Amerika untuk menjadi salah satu pejabat kedutaan Amerika di Philipina tahun 1887, ia menggunakan kesempatan ini untuk berkorespondensi dengan temannya, seorang penganut Ahmadiyah dari India dan bertanya tentang Islam kepadanya.
Meskipun keislamannya dimulai dengan menganut paham Ahmadiyah, ia terus mengembangkan wawasan keislamannya dengan menuntut ilmu ke berbagai negeri Islam dan bertemu dengan para ulama-ulama Islam sehingga ia mendapatkan pemahaman yang baik tentang Islam dan terlepas dari pengaruh Ahmadiyah.
Tahun 1893, ia mengundurkan diri dari dunia diplomatik dan kembali ke Amerika. Di negeri Paman Sam inilah ia memulai dakwahnya menyeru kepada Islam. Dengan kemampuan jurnalistiknya, ia menulis beberapa buku dan kolom-kolom opini di media masa menjelaskan kepada masyarakat Amerika tentang Islam. Di awal abad 20, ia semakin dikenal sebagai seorang muslim yang giat dan vokal dalam mendakwahkan Islam di Amerika, bahkan Sultan Utsmani, Sultan Abdul Hamid II, memberinya gelar kehormatan dari kerajaan sebagai apresiasi terhadap apa yang telah ia lakukan. Alexander Russel Webb wafat pada tahun 1916 dan dimakamkan di New Jesrey. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya.
X (1925 – 1965 M)
Banyak hal yang bisa diceritakan dari perjalanan hidup Malcolm X karena perjalanan hidupnya tidak semulus tokoh-tokoh sebelumnya. Hidupnya sempat diwarnai rekam jejak negatif. Terlahir sebagai seorang kulit hitam adalah sebuah masalah di zamannya, karena masyarakat Amerika masih memarjinalkan orang-orang kulit hitam. Malcolm memulai masa mudanya yang keras dan berusaha menunjukkan eksistensinya di kehidupan, walaupun terkadang itu membawa masalah bagi dirinya sendiri. Ia pernah dikeluarkan oleh sekolahnya dan masuk bui di tahun 1946 karena kasus kriminal yang ia lakukan.
Selama 8 tahun mendekam di jeruji besi, Malcolm mulai terpengaruh dengan pemikiran “Negara Islam” yang dibawa oleh salah satu kelompok yang menyimpang yang didirikan pada tahun 1900-an. Kelompok ini mengkampanyekan supremasi orang-orang kulit hitam dan ras kulit putih adalah kelompok setan. Tentu saja latar belakang berdirinya kelompok ini adalah penindasan yang dilakukan oleh orang-orang kulit putih terhadap orang-orang kulit hitam. Setelah bebas dari penjara, Malcolm bertemu dengan “Nabi” gerakan NOI (Nation of Islam), Elijah Muhammad, Malcolm pun diangkat sebagai mentri dalam NOI.
Pada tahun 1950-an, Malcolm menduduki jabatan tertinggi dalam kelompok ini. Hal itu dikarenakan kecerdasannya dan retorikanya yang baik. Di era kebebasan Amerika kala itu, Malcolm menjadi seorang pejuang hak asasi yang terkemuka. Ia mengadvokasi hak-hak warga Amerika keturunan Afrika agar menjadi setara dengan orang-orang kulit putih. Perjuangan Malcolm ini sama halnya dengan Martin Luther King yang berusaha menjadikan hak warga kulit hitam setara dengan kulit putih, hanya saja, perjuangan Malcolm cenderung lebih keras dan radikal.
Tahun 1950-an terjadi transformasi lagi pada ideologi Malcolm, ia mulai melihat celah dan kekeliruan gerakan Nation of Islam. Ia pun meninggalkan gerakan ini dan mulai mengkaji Islam, mencari nilai-nilai murni dari ajaran Islam yang penuh kedamaian. Ketika ber-haji di tahun 1964, saat itulah ia menemukan hakikat ajaran Islam. Ia pulang ke Amerika lalu mengajarkan dan menyebarkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran tersebut ke warga Afrika-Amerika di lingkungannya.
Di masa-masa perubahan ini pulalah Malcolm mulai angkat bicara tentang penyimpangan paham Nation of Amerika. Satu demi satu anggota Nation of Islam keluar dari gerakan tersebut, namun tidak sedikit pula anggota-anggota gerakan ini yang membenci dan memusuhinya. Puncaknya adalah pembunuhan terhadap dirinya pada tahun 1965 oleh anggota gerakan Nation of Islam.
Walaupun masa keislamannya tidak begitu lama, Malcolm X dianggap memiliki pengaruh besar bagi perjuangan umat Islam di Amerika dan persamaan hak warga kulit hitam yang termarjinalkan.